F O K U S

Nabi Daud Tentang Siapakah Kristus

Ia Adalah Seorang Nabi Dan Ia Telah   Melihat Ke Depan Dan Telah Berbicara Tentang Kebangkitan Mesias Oleh: Blogger Martin Simamora ...

Showing posts with label Yohanes 15:9. Show all posts
Showing posts with label Yohanes 15:9. Show all posts

0 Janganlah Kamu Menyangka! (2)



Oleh: Martin Simamora

Janganlah Kamu Menyangka! (2)


Bacalah lebih dulu Bagian 1

Siapakah Yesus? Pertanyaan ini seharusnya merekah tanpa dapat dicegah oleh sebab hal yang terdasar : Yesus melakukan  lebih dari sekedar koreksi pemahaman namun juga berfirman kala berkata “ tetapi Aku berkata kepadamu” dengan sebuah kandungan yang menitahkan apa yang seharusnya dipahami dan dilakukan terkait firman yang sudah sejak lama telah dititahkan oleh Allah. Sebetulnya ini adalah momentum paling  menyolok yang menyingkapkan keilahian Kristus yang tak pernah surut bahkan didalam kemanusiaannya; Anak Manusia -(Ini tak bisa dimaknai sebagai manusia fana belaka, namun juga  sebagai “Yohanes 1:1.” Bandingkan dengan Matius 8:20, Matius 12:8, Matius 12:32, Matius 12:40)- bertitah didalam dia berfirman kepada orang banyak. Keilahian Yesus pada dasarnya tak pernah mengalami reduksi kala Sang Firman mengambil rupa manusia (Ibrani 2:17, Galatia 4:4, Roma 8:3, Yoh 1:14) dan bukti tercemerlangnya bukan pada mujizat-mujizat spektakuler itu sendiri- (perlu dicamkan bahwa setiap mujizatnya pun lahir dari firmannya atau ketika Sang Firman atau Anak  yang menitahkan sesuatu agar terlaksana, misal: Yoh 2:7-11, Yoh 4:50, Luk 5:4, Markus 1:25, Mat 8:13, Lukas 7:14, Matius 8:26, Matius 8:32, Mat 9:2,6-7, Mat 9:22,24-25, Mat 9:28-29, Luk 8:46,48, Luk 13:12-13)-namun kala Dia berfirman bahkan melakukan koreksi atas pemahaman firman, sebab Dia sendiri adalah Sang Firman yang berfirman. Demikianlah Yesus adanya, sehingga Dia dapat berkata tanpa sedikitpun keraguan atas perkataan Yesus “tetapi Aku berkata kepadamu” terhadap firman yang telah diterima oleh bangsa Yahudi. Sehingga Dia dapat juga berkata “haruslah kamu sempurna seperti Bapamu sempurna.”
Jika anda tahu Siapakah Yesus, maka anda akan memahami bahwa Yesus tidak sama sekali hendak berkata bahwa itu (Matius 5:20, Matius 5:21-48) dipahami sebagai syarat-syarat agar anda masuk Sorga. Sebab yang pertama-tama penting diingat sebelum kita memasuki penjelasan adalah: ketika Firman menjadi manusia maka Dia mengetahui ketakberdayaanmu yang memerlukan penyelamatanNya (bandingkan dengan Ibrani 2:17, Ibarani 2:18,Ibrani 4:15).


Jika anda tahu Siapakah Yesus, maka anda juga seharusnya akan memahami bahwa Yesus tidak sedang membuat anda  memiliki kemerdekaan  yang membuat anda  bagaikan anak yang tak mengenal Bapa  atau memiliki hubungan dengan Bapa. Yesus tidak menginginkan anda seperti para ahli Taurat dan orang-orang Farisi tadi yang  tak memiliki pengertian rohani atau tandus dalam relasi dengan Tuhan,namun menilai diri kaya rohani sebab sukses memenuhi atau menggenapinya.  Yesus  sekalipun mengetahui kelemahan-kelemahan manusiawi manusia tidak memberikan ruang kenormalan untukmu berdosa.

0 Janganlah Kamu Menyangka!


Oleh: Martin Simamora

Janganlah Kamu Menyangka!


Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.- Matius 5:17


Do not think that I have come to abolish the Law or the Prophets; I have not come to abolish them but to fulfill them- NIV
Think not that I am come to destroy the law, or the prophets: I am not come to destroy, but to fulfil.- KJ


Ada hal teramat penting, yang harus anda dan saya ketahui, terkait relasi diri Yesus dengan hukum Taurat atau kitab para nabi yang  kala itu memang menjadi  standard kebenaran yang diterima atau diakui. Nampak jelas secara bersamaan telah terbangun opini bahwa Yesus dan hukum Taurat atau kitab para nabi adalah dua hal yang berkontradiksi atau Yesus meniadakannya atau sedang mengadakan pengajaran asing (bandingkan dengan Markus 1:27, Matius 12:6-8, Kisah Para Rasul 17:19). Begitulah pandangan yang ada dan terlihat begitu kuat sehingga Yesus berkata “Janganlah kamu menyangka.” Itu hal pertama. Namun masih ada hal kedua yang memperlihatkan bahwa sebetulnya relasi antara Yesus dan hukum Taurat adalah sebuah relasi yang  yang sekaligus menunjukan bahwa diri Yesus adalah satu-satunya! Dalam hal apa? Dalam hal, Dia satu-satunya yang dapat secara sempurna menggenapinya atau dia saja secara individual berkapasitas untuk menyelesaikan apa yang dikehendaki oleh Taurat atau kitab para nabi itu. Dua hal sekaligus telah diluruskan oleh Yesus terkait dirinya dan hukum Taurat atau kitab para nabi.


Ketika kita membaca Matius 5 tanpa menghargai penjelasan Yesus, maka memang sukar untuk mendengarkan penjelasanNya. Sebagaimana yang terjadi dengan Nikodemus, begitu sukar untuk memahami perkataan Yesus yang berbunyi: “sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.-Yohanes 3:3" 


Nikodemus gagal memahami makna rohani penjelasan Yesus  (Yohanes 3:4-9) terkait bagaimana dilahirkan kembali sehingga masuk ke dalam kerajaan Sorga. Maka pada Matius 5 pun Yesus kembali menyingkapkan realita yang terjadi pada orang banyak (Matius 5:1) yang sama sekali tak memahami makna rohani dari setiap firmannya. Mendengar namun tak mengerti secara benar:


Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Hidup keagamaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat adalah kehidupan yang miskin pengertian dan kehidupan rohani yang sejati. Mereka terperangkap dalam kehidupan religius yang kaya secara lahiriah namun tandus dalam relasinya  dengan Pemberi Firman. Sebuah akar permusuhan yang mematikan antara mereka dengan Yesus Kristus.

0 KASIH .



Oleh : Martin Simamora & Pdt.Steidy Suwuh

KASIH .


Baiklah. Problemnya adalah kebanyakan orang Kristen ketika membaca kasih maka dimaknai sebagai bentuk terlemah dari ekspresi atau perwujudan iman Kristen. Bahkan hingga yang paling negatif : hanya kasih maka tak memperhatikan mana yang salah dan mana yang  benar. Dengan kata lain, kalau saya memuliakan kasih atau mengasihi Tuhan  sebagai sentral keberimanan saya kepada Tuhan Yesus, maka akan dimaknai bahwa saya tak menggubris larangan dan aturan/menyampahkannya. Benarkah? Jawabnya: Salah sama sekali! Kita  BUKAN memandangnya sebagai sampah, namun bukan merupakan dasar atau fondasi  hubungan saya atau anda dengan Kristus! 


Perhatikan hal ini, yang dikemukakann  pendeta Steidy Suwuh dalam sebuah grup di facebook dimana saya  berkesempatan berinteraksi di dalamnya:
Kekristenan tidak didasarkan  pada  larangan-larangan  dan peraturan-peraturan. Sesungguhnya, Kekristenan didasarkan kepada suatu hubungan kasih dengan seseorang, yaitu Yesus Kristus. Dasar-dasar fundamental dari kehidupan Kristen yang sejati adalah diringkaskan dalam dua perintah agung yang diberikan oleh Kristus dalam Matius 22:37:
"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.


Bagaimana anda menanggapi perintah Yesus ini? Setinggi apakah anda mengapresiasinya? Apakah  ini bermakna bahwa dengan demikian Yesus anti terhadap hukum atau aturan atau larangan? Yesus penganut amoralitas dan penganjur anti hukum negara dengan demikian? Tidak sama sekali.

0 KEMATIAN YANG MENGERIKAN




Oleh: Pdt.Budi Asali

KEMATIAN YANG MENGERIKAN
(16 Mei 2014)



LUKAS 13:1-9
Luk 13:2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?
Luk 13:3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.
Luk 13:4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?
Luk 13:5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian."
Luk 13:6 Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya.
Luk 13:7 Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!
Luk 13:8 Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,
Luk 13:9 mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"


Pendahuluan:
Kalau kita mendengar berita tentang kematian yang mengerikan yang di alami seseorang, maka kita sering menganggap bahwa orang itu mengalami hal itu sebagai hukuman dari Tuhan, karena ia sangat berdosa di hadapan Tuhan, atau lebih berdosa dibandingkan dengan orang lain.Pandangan seperti ini sudah ada pada jaman dulu.

0 Ketika Tuhan Yang Panjang Sabar Berjalan Dalam Puting Beliung



Oleh: Martin Simamora

Ketika Tuhan Yang Panjang Sabar  Berjalan  Dalam Puting Beliung

TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. Nahum 1:3





Teks (1:3)bagi renungan kita kali ini adalah bagian yang luar biasa, yang dapat kita jumpai dalam kitab Nahum, yang sedang mengambarkan siapakah TUHAN? Bahwa dalam murkaNya yang meluap-luap, Dia adalah TUHAN yang panjang sabar. Ya! Dalam realita 1:2, Dia adalah TUHAN yang panjang sabar!

TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya.  Nahum 1:2

Tak seperti anda kebanyakan, sebagai orang Kristen, Nahum bahkan pada saat yang sama dapat menggambarkan TUHAN itu panjang sabar bahkan dalam sebuah murka berkualitas kudus  yang tak setitik pun menoleri sebuah pengingkaran atas ketetapan-ketetapanNya yang kudus nan mulia. Nahum berkata, bahwa TUHAN yang sedang murka dahsyat itu adalah TUHAN yang panjang sabar. Jika TUHAN yang panjang sabar itu pada akhirnya tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang  bersalah, bahkan berjalan dalam puting beliung- berjalan dalam kemurkaan yang siap melahap habis setiap kesalahan dihadapannya, maka hanya satu penjelasan atas murkaNya, bahwa Dia adalah Kudus dan tidak pernah dosa adalah masalah yang ringan! Apalagi bila tanpa sebuah solusi, pasti merupakan masalah yang mendatangkan maut  pada akhirnya tanpa ampun dalam level sekecil apapun!

0 Karena Kuasa IlahiNya Telah Menganugerahkan (2)



Oleh: Martin Simamora


Karena Kuasa IlahiNya Telah Menganugerahkan (2)



Bacalah lebih dulu bagian 1

Sementara Petrus sangat menekankan kemegahan dan kemuliaan kasih karunia dan kebergantungan total  setiap orang percaya kepada kasih karunia, tak berarti dia memandang persoalan  pertumbuhan  atau kedewasaan orang percaya untuk merefleksikan kebenaran kasih karunia  yang bekerja di dalam diri orang percaya sebagai sebuah persoalan yang selesai dengan sendirinya atau dengan kata lain: sama sekali Petrus tidak pernah mengatakan bahwa kasih karunia membuat seorang Kristen tidak akan lagi mengalami masalah-masalah kedagingan yang masih mendera setiap diri orang percaya dimana orang percaya sekalipun telah mengambil bagian dalam kodrat ilahi tetap harus berjuang menaklukan masalah yang masih tersisa itu. Pada titik inilah kerap dipersengketakan: (1)apakah orang percaya itu melakukan perjuangan olehnya sendiri? dan (2)apakah efektifitas dan konsistensi perjuangannya turut menentukan efektifitas, kepastian dan bahkan kelanggengan keselamatannya hingga ke sorga? Dengan kata lain  grafik gagal sukses perjuangan melawan kedagingan mencerminkan fluktuasi kepastian keselamatanmu sendiri, telah menjadi pandangan  yang menggugat kemuliaan dan kekuatan kasih karunia keselamatan yang datang dari Tuhan. 


Kita, pada bagian ini, dalam cara yang pokok, akan melihat bahwa  kebergantungan total pada kasih karunia justru membuat setiap orang percaya memiliki 2 hal yang sekaligus menyanggah 2 pandangan diatas tadi, yaitu pada faktanya: (1)sumber daya atau kekuatan orang percaya bersumber dari Tuhan dan dengan demikian andal, dan (2) karena itu memberikan penjaminan yang kokoh, andal dan ilahi baginya untuk penuh keyakinan menaklukan kedagingan-kedagingannya  waktu demi waktu, hari demi hari dan dalam setiap momen tanpa perlu berputus asa atau frustrasi akan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan di dunia  yang penuh dengan tantangan, kesukaran dan godaan sekaligus di dalam keterbatasan orang percaya di dalam tubuh dagingnya (bandingkan dengan 1 Korintus 10:13, 2 Petrus 2:9). 


Dan Petrus menyatakan  hal ini dalam sebuah statement yang teramat kokoh:

0 Karena Kuasa IlahiNya Telah Menganugerahkan (1)



Oleh: Martin Simamora


Karena Kuasa IlahiNya Telah Menganugerahkan (1)



Bacalah lebih dulu : "Tak Terkatakan"

Pengajaran-pengajaran yang melencengkan makna mulia dan penuh kuasa dari kasih karunia Allah yang begitu besar(Yohanes 3:16), nampak nyata semakin benderang sekaligus memperdaya, dan tanpa malu-malu tak memedulikan bagaimana sebetulnya kasih karunia Allah yang begitu besar tersebut diberitakan oleh para rasul yang sungguh setia kepada kebenaran sejati. Saya kuatir pendeta atau pengajar atau gembala atau penginjil tersebut sudah tidak lagi mengerti,  apa makna kasih karunia Allah yang begitu besar; kelihatannya bagi  mereka kasih karunia Allah tidaklah begitu besar. Dan yang paling mengerikan adalah ketakpercayaan pada kuasa Roh Kudus untuk menjadi sentral atau sumber tak terputus kekuatan, kebenaran,pengharapan dan kasih Tuhan (bacalah: Yohanes 14:16-17, Yohanes 14:26, Yohanes 16:7-15, Kisah Para Rasul 2:1-47, Roma 5:3-5, Roma 8:26, 1 Kor 3:16-17,1 Kor 6:19, 2 Kor 3:6 Yohanes 14:15-17, Yohanes 16:12-15, 1 Kor 2:13, Roma 15:13, Efesus 1:13, Roma 5:5, Roma 8:9, Efesus 4:30, 2 Korintus 5:5) di dalam  diri setiap orang percaya  sebagai orang-orang yang telah dikuduskan oleh darah Yesus (Ibrani 9:12, 9:14, 10:10,13:12, 1 Korintus 1:2, 1:30, 6:11), di dunia yang jahat dan beranak-pinakan dosa.Sungguh, para pengkhotbah yang menekankan sentralitas perjuangan daging untuk memastikan atau menyegel keselamatan itu, berbeda dengan kesaksian para rasul dalam epistel-epistel yang mereka tuliskan kepada jemaat-jemaat, seperti Petrus:

2 Petrus 1:3
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.

0 “Tak Terkatakan”



Oleh: Martin Simamora

“Tak Terkatakan”


Tahukah anda, sangatlah sukar bagi manusia untuk pada akhirnya mengatakan “Tak terkatakan!” Terhadap kasih karunia. Ini adalah sebuah ekspresi yang hendak menunjukan sesuatu yang begitu agung atau terlampau megah sehingga sangat dikuatirkan kekayaan bahasa manusia gagal untuk sanggup memotret  kemegahan kasih karunia yang bekerja total dalam diri manusia milik Kristus. Maka memang ketika berjumpa dengan hal yang tak terselami oleh pikiran dan tak dapat diraba keluasannya dan kemegahannya maka ekspresi tak terkatakan  memiliki sebuah bobot jiwa bahasa yang seharusnya membuat  para pembaca untuk berhenti dan mengamati keindahan atau kemegahan apakah yang sedang diekspersikannya:

2Korintus 9:15 Syukur kepada Allah karena karunia-Nya yang tak terkatakan itu!
Alkitab Batak: 2Korint  9:15 Alai mauliate ma tu Debata  ala ni silehonlehonma, na so tarhatahon i!

NIV: Thanks be to God for his indescribable gift! 
 
Jika saja anda mau membaca lebih utuh  ayat-ayat sebelumnya maka dapat dipastikan bahwa ini adalah ungkapan yang sedang memuji-mujikan, sedang memulia-muliakan Tuhan dalam sebuah cara  terpuncak kemampuan manusia untuk menyatakan kemegahan yang terlampau agung: “tak terkatakan.” Sebab memang hanya bisa dinikmati, dialami dan dihidupi sehingga melahirkan sebuah pengalaman atau kesaksian yang tak kuasa untuk berlebar panjang diutarakan selain sebuah kagum, tertegun, terpana dan semua kata-kata termegah dan terpuitis pun kadang sudah tak kuasa untuk menguap dihadapan  tindakan Tuhan yang tak terkatakan itu. Tetapi saya kuatir bagi sebagian orang Kristen ini seperti omong kosong sebab kini  cukup banyak  orang Kristen melihat dirinya sebagai sumber  pemenuhan diri dalam segenap aspeknya dan bukan Tuhan. Bahkan manusia menjadi tuhan bagi dirinya sendiri sehingga tak lagi keluar pujian bagi kasih karunia Tuhan yang  menjangkau realita sorga.

0 Selamat Menyambut dan Memasuki Tahun 2015



Oleh : Martin Simamora

Selamat Menyambut dan Memasuki Tahun 2015
"Ketika Kristus Berdoa Bagi Masa Depanmu"



Sebentar lagi, dalam hitungan jam, jika Tuhan berkenan maka saya dan anda akan memasuki tahun baru  entah dalam keadaan sehat atau sakit dan entah apapun juga keadaanmu. Saya katakan demikian sebab juga ada mereka yang  memasuki tahun baru dalam keadaan perang, dalam pelarian atau pengungsian akibat perang atau kelaparan, atau dalam kesedihan dan duka yang mendalam. Pada kesempatan ini saya  ingin menyatakan turut bersimpati dan berduka  kepada setiap keluarga yang berduka karena anggota keluarganya mengalami musibah dalam jatuhnya pesawat AirAsia, penerbangan Surabaya-Singapura, biarlah kasih Tuhan kiranya mendekap setiap hati yang berduka. Dan bagi setiap orang Kristen atau keluarga Kristen hendaklah setiap dari kita memandang ke belakang- apa yang telah terjadi untuk  tetap mengucap syukur dalam segala hal, ya dalam segala hal termasuk keadaan yang menyedihkan bukan saja menggembirakan dan termasuk keadaan sukar bukan saja keadaan mudah atau menyenangkan (renungkanlah 1 Tesalonika 5:18, Efesus 5:20), dan juga hendaklah setiap kita memandang masa depan dengan senantiasa melibatkan Tuhan dalam segala yang direncanakan sebab kita tak tahu sama sekali apa yang akan terjadi pada esok hari dan pada diri kita sendiri; kita sama sekali tak berkuasa atau tak memiliki kendali apapun akan masa depan bahkan pada hidup diri sendiri (bandingkan dengan Yakobus 4:13-15, Amsal 20:24, Amsal 37:23, Yeremia 10:23).


Masa lalu dan masa depan, dalam kedua hal tersebut kita tidak memiliki kuasa dan kendali apapun itu sebabnya  kepada masa lalu yang telah dilalui atas apapun juga kita diperintahkan untuk mengucap syukur dan kepada masa depan yang belum dilalui kita diperintahkan untuk melibatkan Tuhan. Jika kita tidak melibatkan Tuhan  dalam setiap hal yang hendak kita lakukan maka kita adalah manusia-manusia sombong atau congkak (Yakobus 4:16, Amsal 27:1), dan itu adalah sebuah dosa (Yakobus 4:17).

0 Sang Raja Datang



Oleh:  Pastor Mike Osborne


Sang Raja Datang
Teks: Yesaya 40:1-11




Pada khotbah kali ini, kita akan melihat sejumlah nas Alkitab yang  telah digunakan oleh Handel dalam karyanya “Messiah” sebagai teks-teks khotbah kita. Sebagai pengenal bagi para pembaca, berikut ini sekilas pengantar: Handel dengan “Messiah”-nya:

  • George Frideric Handel (1685-1759): komposer opera-opera, komposer musik untuk untuk komposisi musik yang dikomposisi dalam  3 bagian, seorang komposer musik berskala besar –oratorio-  yang melibatkan orkestra, kor,  para solois, sebuah ensemble, beragam karakter yang unik, dan aria. Secara khusus yang paling terkenal adalah oratorio : Messiah.
  • Walau lahir di Jerman, Handel  pindah ke London pada usia 27, dan di London dia berkarya paling kreatif dan meninggalkan penulisan  berbahasa Italia menjadi berbahasa Inggris.
  • “Messiah” telah dikomposisi olehnya hanya dalam waktu 24 hari pada rentang Agustus dan September 1741

Alur khotbah ini akan menyelaraskan dirinya pada alur “Messiah” pada porsi “Christmas” saja. Sehingga memang sangat dianjurkan untuk menyaksikan terlebih dahulu  “Messiah.”

0 Hai Kamu, Orang Kristen! Akankah Menjadi Agen Belas Kasihan Tuhan atau Agen Kejahatan Dunia?



Oleh: Dr. John Frame


Hai Kamu, Orang Kristen! Akankah Menjadi Agen Belas Kasihan Tuhan atau Agen Kejahatan Dunia?



Sekilas pandang terlihat  janggal bahwa sebuah konferensi tentang pelayanan-pelayanan belas kasihan harus mencakup pembicaraan aborsi, tetapi dipikir-pikir kemudian, itu merupakan kombinasi yang luar biasa  tepat. Belas kasihan dalam kitab suci diarahkan utamanya pada mereka seperti para janda dan anak-anak yatim piatu yang tak dapat menolong diri mereka sendiri, yang tidak memiliki kekuatan efektif dalam masyarakat untuk membela urusan mereka sendiri. Siapa, kemudian, yang  merupakan obyek-obyek yang  lebih  pantas daripada bayi-bayi yang masih berada di dalam kandungan? Bayi-bayi ini tidak berdosa (berdosa didalam Adam, tetapi secara legal  tanpa kesalahan) yang secara literal memang tak berdaya, yang tidak dapat  berbicara atau bertindak  membela dirinya sendiri. Namun banyak dari bayi-bayi dalam kandungan ini mengalami serangan ganas pada hari ini oleh kekuatan-kekuatan masyarakat dominan: diajarkan dalam sistem pendidikan, media, pemerintah termasuk pengadilan-pengadilan yang seharusnya dapat dituntut untuk adil. Bahkan  pemikiran paling etis dalam masyarakat moderen pun melawan bayi-bayi yang belum dilahirkan ini.

Dan bagian yang paling mengerikan  pada perihal ini adalah, bahwa anak-anak ini mengalami serangan dari para ibu kandungnya sendiri. Ibu adalah garis pertahanan terakhir si anak. Jika ibu meninggalkan anaknya, siapa yang akan menolong? Siapa yang sungguh-sungguh menolong? Mazmur 27:10 memberikan jawaban: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” Yesaya mengatakan dalam horor mengenai kemungkinan bahwa seorang ibu mungkin melupakan anaknya. Tetapi melalui Yesaya, Tuhan berkata, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” Tuhan adalah penolong bagi orang miskin, suami bagi para janda, Ayah bagi yang tak berayah. Dia peduli pada mereka yang  tidak dipedulikan dunia. Dan Tuhan memanggil umatnya menjadi agen-agen-Nya: ”belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!” (Yesaya 1:17). Bayi yang masih di dalam kandungan ibu mewakili kemanusiaan dalam wujudnya  yang paling tak berdaya. Dalam ancaman serangan yang tak berbelas kasihan. Mereka  memiliki, dengan demikian,  sebuah klaim unik pada belas kasihan umat Tuhan.

0 Bertumbuh Dalam Kasih Karunia dan Pengenalan



Oleh: Dr. John Frame

Bertumbuh Dalam Kasih Karunia dan Pengenalan



Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.- 2 Petrus 3:18



Khotbah ini datang dari hati dalam sebuah cara yang spesial, karena, setelah banyak pembicaraan dengan Tuhan dan menelisik firmannya, itulah yang  saya pikir apa yang paling perlu untuk didengarkan, pada hari ini. Ini tidak harus menjadi area kebutuhan  kita  yang terbesar, tetapi ini memang ada diantara subyek-subyek yang saya pikir, saya dapat  menggumulinya dan memberikan manfaat, inilah yang terlihat paling keras  berteriak meminta perhatian kita.

Subyek itulah yang disumarikan dalam ayat terakhir dari teks kita ini: “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juru selamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya” (2 Petrus 3:18).

Orang Kristen bertumbuh, itulah subyeknya; itulah kebutuhan kita. Bayi-bayi manis dan menggemaskan dalam banyak hal. Tetapi jika seseorang tetap seorang bayi selama 10 tahun, 20 tahun, sesuatu yang sangat salah sedang terjadi. Kita akan mendapatkan bahwa di dalam “bayi” itu sesuatu yang sangat menyedihkan, sesuatu yang sangat abnormal.

0 Galatia 3:15-29, Sebuah Dialog Tradisi, Taurat Vs Anugerah



Oleh: Dr. John Frame

Galatia 3:15-29, Sebuah Dialog Tradisi, Taurat Vs Anugerah


Galatia 3:15-17 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorangpun. Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus. Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.

Ada banyak pengajaran baik dalam teks ini, tetapi memang sulit untuk mengkomunikasikannya kepada orang lain. Sebagaimana dilakukan para teolog, kami secara luar biasa tergoda untuk masuk ke dalam banyak bahasa teknis. Tetapi  biarkan saya  untuk  sedikit menjauh dari hal semacam itu  dengan menggunakan sarana sebuah  konstruksi imajinatif, jika anda bersedia untuk mengikuti saya.

Katakanlah bahwa anda seorang Yunani yang hidup di abad pertama (saya akan memanggilmu Jason), dan anda  mendengar seorang pengkhotbah bernama Paulus sedang membicarakan seorang lain bernama Yesus. Yesus ini, ujarnya, telah melakukan  mujizat-mujizat, telah mati sebagai seorang korban penebus dosa, dan telah bangkit kembali. Dan Paulus berkata bahwa jika kamu percaya pada Yesus, Tuhan akan mengampuni seluruh dosa-dosamu, setiap dari mereka. Sesuatu mencengkram  hatimu, dan anda berlari kepada Paulus:

0 Alkitab Pada Problem Kejahatan



Oleh: Dr. John Frame


Alkitab Pada Problem Kejahatan


Roma 3:1-8 (1) Jika demikian, apakah kelebihan orang Yahudi dan apakah gunanya sunat?(2) Banyak sekali, dan di dalam segala hal. Pertama-tama: sebab kepada merekalah dipercayakan firman Allah.(3) Jadi bagaimana, jika di antara mereka ada yang tidak setia, dapatkah ketidaksetiaan itu membatalkan kesetiaan Allah?(4) Sekali-kali tidak! Sebaliknya: Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong, seperti ada tertulis: "Supaya Engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang, jika Engkau dihakimi."(5) Tetapi jika ketidakbenaran kita menunjukkan kebenaran Allah, apakah yang akan kita katakan? Tidak adilkah Allah--aku berkata sebagai manusia--jika Ia menampakkan murka-Nya?(6) Sekali-kali tidak! Andaikata demikian, bagaimanakah Allah dapat menghakimi dunia?(7) Tetapi jika kebenaran Allah oleh dustaku semakin melimpah bagi kemuliaan-Nya, mengapa aku masih dihakimi lagi sebagai orang berdosa?(8) Bukankah tidak benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata: "Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari padanya." Orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman.
Harus juga membaca: Roma 3:21-26, Roma 5:1-5, Roma 8:28-39

Bagi banyak orang dewasa ini dan di sepanjang sejarah, problem kejahatan telah digambarkan sebagai keberatan paling serius  pada iman Kristen. Beberapa filsuf yang sangat brilian telah berpendapat bahwa problem ini secara konklusif/tak terbantahkan menyanggah keyakinan dalam Tuhan Kristen. Namun tak hanya para profesor dan filsuf—orang awam, juga, kerap merasa ini problem yang mendalam. Anda tidak perlu menjadi seorang  filsuf yang canggih untuk meragukan realita Tuhan ketika seorang yang dikasihi sedang  mengalami penderitaan yang mengerikan. Pada saat-saat semacam ini “problem kejahatan” bukanlah semacam argumen yang perlu dipelajari sebab hal itu  pada dasarnya sebuah teriakan hati, “Bagaimana bisa  Tuhan yang kasih mengizinkan hal ini?”

0 Rasisme, Lonceng Maut Kemanusiaan



Oleh: Martin Simamora


Rasisme, Lonceng Maut Kemanusiaan




Kolose 3:11  dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Ketika saya mendengar dan menonton berita di televisi bahwa Amerika Serikat sedang dilanda kerusuhan bernuansa rasialisme di Ferguson, sekali lagi dan berangkali untuk kali ke sekiannya, saya diyakinkan bahwa Rasisme dan diskriminasi dalam segala wujudnya dapat menjadi lonceng maut kemanusiaan. Manusia oleh hal ini dapat menjadi brutal untuk saling menghancurkan tak hanya manusia lainnya, namun peradaban manusia itu sendiri. Walau  tak semematikan bom atom hirosima dan nagasaki, namun rasisme memiki semacam radiasi nuklir yang “kekal”dan tak pernah benar-benar lenyap  residunya, sekali itu meledak di sebuah wilayah atau negara. Saya tak akan spesifik mengulas apa yang sedang berlangsung di AS dan juga  tidak akan berbicara secara khusus dalam terminologi-terminologi sosiologi apalagi politik yang pelik. Namun demikian, saya menilai penting untuk mencukil apa yang ditulis oleh Profesor Thomas  M.Saphiro dalam bukunya berjudul “The Hidden Cost of Being African American: How Wealth Perpetuates Inequality.” Saya akan cukup serius menyentuh buku ini, untuk kemudian kita bergerak menyorot isu ini dalam sudut pandang pengajaran Kristen.

0 Kelegaan Pada Doa Yesus



Oleh: Dr. R.C. Sproul

Kelegaan Pada Doa Yesus


Sebagai pelayan yang ditahbiskan, saya memiliki pengalaman  menjelajahi firman-firman Tuhan dengan sejumlah orang untuk membantu mereka melihat apa yang Tuhan  pasti katakan mengenai beragam subyek.


Selama bertahun-tahun, salah satu pertanyaan yang paling umum yang telah ditanyakan kepadaku, berkaitan dengan makna karya Kristus bagi keamanan keselamatan orang percaya. Perjanjian Baru memberikan kita banyak kategori untuk memahami bahwa  mereka yang sungguh-sungguh telah diselamatkan akan dipelihara/dijagai tetap bertahan (persevere) oleh Tuhan. Ada kategori justifikasi, yang mengatakan kepada kita bahwa kita telah menerima kebenaran yang dikerjakan oleh dan dimiliki oleh Kristus pada diri kita sendiri sehingga memiliki kebenaran yang sekualitas dengan Kristus manakala kita beriman kepada Yesus, sehingga kita memiliki kesempurnaan Allah pada diri kita ( 2 Korintus 5:21, Roma 3:21-22) dan dengan demikian  berdamai dengan Allah—bukan sebuah  gencatan senjata yang dapat dirusak oleh provokasi yang terkecil sekalipun, tetapi sebuah damai kekal dimana Tuhan tidak pernah mengacungkan tangan menentang kita kembali :


Roma 5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
NIV Therefore, since we have been justified through faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ,
KJV Therefore being justified by faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ:

0 Kasih Karunia Mendidik Kita Meninggalkan Kefasikan dan Keduniawian



Oleh: Martin Simamora


Kasih Karunia Mendidik Kita Meninggalkan Kefasikan dan Keduniawian



Paulus sangat dikenal sebagai rasul yang kental pengajaran kasih karunia, bahwa kita selamat oleh kasih karunia, bukan karena kemampuAn manusia untuk melakukan atau memenuhi tuntutan hukum taurat (Roma 3:24, Roma 3:26, Roma 3:28-30, Roma 4:3, Roma 4:5, Roma 4:11, Roma 4:16, Roma 5:1, Roma 5:9, Roma 9:33, Roma 10:4, Roma 10:9-10, Roma 11:6, Galatia 2:16, Galatia 2:21, Galatia 3:5-6, Galatia 3:8, Galatia 3:14, Galatia 3:22, Galatia 3:24, Efesus 1:13, Efesus 2:8, Filipi 3:9, 1 Timotius 1:16). Juga didalam kasih karunia itu, Paulus secara kental mengajarkan sebuah kehidupan keselamatan yang bertanggungjawab pada diri orang Kristen (Filipi 2:12-13, Galatia 6:1-8, 2 Korintus 5:6-10, 1 Korintus 13:11, 2 Tesalonika 3:11-18, Roma 12:9-21, Kolose 3:23-25, Roma 6:1-23, Efesus 5:8-11).


Saya berharap anda berkenan untuk membuka Alkitab dan membaca  teks-teks itu. Namun, kita dapat menyederhanakannya melalui pernyataan Paulus sendiri:
Titus 2:11-12 Karena kasih karunia Allah yang menyelamatkan semua manusia sudah nyata. Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.

Ini adalah poin tertinggi  yang dikerjakan oleh kasih karunia Allah dalam diri orang percaya namun terlihat  mulai atau telah diabaikan oleh sejumlah  gereja. Epsitel Paulus ketika berbicara kasih karunia  yang menyelamatkan semua manusia (semua disini adalah umat kepunyaan Allah yang telah dikuduskan-Nya Titus 2:14) . Seolah tak lagi penting untuk mendidik atau mengajarkan tentang kesoponan atau kesantunan dan kekudusan seorang perempuan dalam berbusana misalnya, sebab berdasarkan ayat-ayat kasih karunia dipelintirkan bahwa  mengejar  hal itu sama saja merendahkan kasih karunia, sebagaimana diindikasikan juga melalui pengajaran  pastor Joseph Prince.  

2 Ketika Raja Salomo Tak Seindah Bunga


Oleh: Martin Simamora

Ketika  Raja Salomo Tak Seindah  Bunga




namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.- Matius 6:29

Dalam Alkitab, Salomo dikenal sebagai  seorang raja yang paling bijak dan seorang raja yang paling kaya. Salomo adalah manusia terbijak yang pernah hidup melampaui semua orang paling berkhikmat di eranya, hikmat yang datang dari Tuhan sendiri:


1 Raja 4:29 (29)Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut,(30) sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir.(31) Ia lebih bijaksana dari pada semua orang, dari pada Etan, orang Ezrahi itu, dan dari pada Heman, Kalkol dan Darda, anak-anak Mahol; sebab itu ia mendapat nama di antara segala bangsa sekelilingnya.(32) Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima.(33) Ia bersajak tentang pohon-pohonan, dari pohon aras yang di gunung Libanon sampai kepada hisop yang tumbuh pada dinding batu; ia berbicara juga tentang hewan dan tentang burung-burung dan tentang binatang melata dan tentang ikan-ikan.(34) Maka datanglah orang dari segala bangsa mendengarkan hikmat Salomo, dan ia menerima upeti dari semua raja-raja di bumi, yang telah mendengar tentang hikmatnya itu.

Bahkan ketenaran hikmatnya dapat membuat seorang ratu mengunjunginya hanya untuk berteka-teki dengannya, untuk mengetahui sehebat apakah hikmat raja Salomo (1 Raja10:1), dan semuanya dapat dijawab oleh Salomo ( 1 Raja 10:3). Hikmatnya ini mendatangkan kekayaan  yang tiada tara ( baca 1Raja 10:14-29). 


Tetapi mengenai Salomo, Yesus berkata bahwa dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari  bunga bakung! Ini sebuah pernyataan yang memaksa siapapun harus mengernyitkan dahi atas pernyataan Yesus yang mengejutkan ini. Mengapa demikian?

0 1 1 1



Oleh: Martin Simamora

1 1 1

Jikalau bahaya mengepungmu atau keputusasaan menyelimuti jiwamu atau orang-orang jahat merancang dan berupaya  hebat merampas nyawamu dari tubuhmu, apakah kita sebagai orang-orang percaya masih benar-benar percaya kepada pertolongan Tuhan dalam sebuah derajat yang sangat vulgar tanpa keraguan?

Akankah anda dan saya  dapat berkata seperti ini:

Mazmur 11:1 Pada TUHAN aku berlindung, bagaimana kamu berani berkata kepadaku: "Terbanglah ke gunung seperti burung!"

Daud, sang pemazmur berkata “pada TUHAN!” Bukan pada kekuatanku, bukan pada kecerdikanku, bukan pada apa yang dapat kulakukan, bukan pada keyakinan hatiku, bukan pada hikmat dan kebenarannya atau pada kekuatan dunia yang dapat diakses atau dimilikinya.

Daud menjelaskan bagaimana dia dapat  kokoh untuk menjadikan TUHAN sebagai tempat perlindungannya, tidak berhenti dan tidak berputus asa dalam pengharapan kala situasi bahaya yang dihadapi tidak dapat diatasi begitu saja bahkan oleh kekuatan  manusia.

0 Tuhan Penentu Waktu dan Masa Atas Segala Sesuatu



Oleh: Martin Simamora
Tuhan  Penentu  Waktu  dan Masa Atas Segala Sesuatu



Salomo,  anak Daud dan satu-satunya manusia fana yang memiliki kebijaksanaan dari TUHAN (1 Raja-Raja 3:5,bandingkan dengan 1 Raja 3:16) dan seorang yang  luar biasa pandai bahkan memiliki ilmu-ilmu tentang pepohonan dan binatang (1 Raja 4:29 dan, Amsal 30:24-31), menuliskan hikmat-Nya pada  Pengkhotbah:

Pengkhotbah 3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.

Apa yang hendak dikatakan Salomo kepada kita mengenai hal ini? Apakah manusia tidak sama sekali berkuasa atas masa dan waktu untuk setiap peristiwa? Apakah manusia berkuasa untuk memutar ulang waktu? Apakah manusia berkuasa untuk menahan 1/seribu waktu? Apakah manusia berkuasa untuk menentukan kapan tepatnya datang sebuah dirinya untuk  tertawa  atau berduka? Tidak sedikitpun manusia berkuasa.


Manusia hanya harus menjalaninya dan berjuang melalui kesedihan dan kesukaran-kesukaran atau bersyukur atas gelak tawa dan keriangan-keriangan serta kedukaan dan kesedihan  yang dijumpainya dalam dan selama  perjalan hidupnya:

Pengkhotbah 7:14 Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya.
Anchor of Life Fellowship , Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri - Efesus 2:8-9